Mengenai Tong Kosong…dan Juga Filosofinya (yang Mungkin Dibahas Terlalu Dalam)

Image result for negativity
Ini bukan tong kosong yang dimaksud.
(Sumber: Success Magazine via Google)

Artikel ini merupakan sekuel dari artikel #NyaringkanKembaliBunyiTongKosong sebelumnya.

Atau mungkin lebih bisa dibilang sebagai reprise.

Pada artikel ini, gue mencoba untuk mengerucutkan kembali tema yang menjadi sebuah ide proyek tong kosong yang idealis, bombastis, dan juga melankolis. Gue akan menjelaskan kembali mengapa gue memilih tema itu secara lebih dalam. Berbicara mengenai dalam, topiknya akan benar-benar sangat dalam sampai agak luber sampai gue bagi jadi beberapa bagian. Jadi, mohon maaf kalau kepanjangan.

Okay, so here it goes…

SIFAT MANUSIA

Manusia pada dasarnya memiliki emosi. Emosi tersebut berasal dari kemampuan manusia untuk merasa (feel) secara subjektif, yang disebut dalam bahasa Inggris dengan istilah sentience. Emosi memiliki manifestasi yang beragam, sebagai reaksi natural terhadap fenomena di lingkungan sekitar kita, dari positif hingga negatif, suka maupun duka.

Plutchik-wheel.svg
Roda emosi Robert Plutchik.
(Sumber: Wikipedia)

Setiap manusia pastinya menginginkan bahwa hidupnya mencapai sebuah titik yang dikenal dengan istilah bliss, yaitu sebuah kondisi kesenangan yang sempurna dan tak ternilai (Oxford Dictionary, 2020). Di sisi keilmuan, terutama dunia psikologi, kondisi ini dikenal dengan istilah sehat mental (mental health).

Oleh karena itu, banyak manusia mencoba untuk memenuhi dirinya dengan perasaan positif, memenuhi dirinya dengan kesenangan. Sampai-sampai mereka lupa bahwa kesenangan sendiri merupakan sebuah proses dan siklus yang harus diemban untuk mencapai sehat mental.

Di sisi lain, bliss merupakan suatu hal yang tidak memiliki tolak ukur yang pasti. Dengan kata lain, manusia tidak pernah puas.

“Hidup itu berjalan seperti roda, terkadang di atas dan terkadang di bawah.” Demikian perumpamaan yang banyak dikata orang. Ada sebuah artikel menarik yang menentang perumpamaan ini, tetapi yang pengen gue tekenin, ada momen yang tidak harus berupa kesenangan. Baik itu rasa sedih, takut, atau marah, sifat tersebut tetaplah menjadi hal yang esensial dan bagian dari insting yang membuat manusia mampu bertahan hidup, dan tanpa mereka, rasa senang menjadi tiada artinya. Bagaimana kita tahu kalau kita merasa senang jika tidak pernah merasakan emosi sedih, takut, ataupun marah?

REPRESENTASI BUDAYA POPULER

Di era sekarang ini, muncul reaksi terhadap kampanye kesenangan ini. Istilah materialisme, hedonisme, dan toxic positivity muncul sebagai antitesis dari definisi kesenangan yang dipersepsikan secara umum, entah itu materi, uang, atau kampanye hidup positif yang banyak menjamur di internet.

Tema mengenai hal tersebut juga dieksplor oleh sejumlah media, antara lain film, gim, dan serial televisi.

Bagi gue, film yang mampu menjelaskan dengan baik bagaimana ‘rasa senang bukan segalanya’ adalah Inside Out.

Image result for emotions movie inside out
Disgust is really really relatable.
(Sumber: Pixar Animation Studios, Walt Disney Pictures)

Seperti kata pepatah (karena gue lupa siapa yang ngomong), film yang baik adalah film dengan antagonis yang kuat. Pertanyaannya…siapa antagonis di film ini? Analisis dari kanal Wisecrack akan sangat membantu kalian memahami ini.



Agak obvious.
(Sumber: Wisecrack, YouTube)

Adapun gim yang menurut gue mempunyai premis yang keren mengenai konsep tadi adalah We Happy Few. Gim bertema distopia ini mengambil setting di Wellington Wells, sebuah kota fiksi yang berada di Inggris, yang dalam timeline ini mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II. Gim ini memiliki plot device yang terpusat di pil bernama Joy (sebuah kebetulan), yakni obat yang wajib dikonsumsi oleh warga Wellington Wells untuk merasa senang dan melupakan kesedihan karena kekalahan di perang. Orang yang tidak mengonsumsi obat ini disebut sebagai downer(s), dan diburu oleh polisi untuk dipaksa mengonsumsinya atau dibunuh.


Premisnya kira-kira.
(Sumber: LORE, YouTube)


Trailer dari developer.
(Sumber: Compulsion Games, YouTube)

Untuk serial televisi, Steven Universe juaranya.

Serial ini mampu membuat gue nonton maraton selama seminggu lebih di bulan Januari. Gue sangat menyarankan siapapun yang baca artikel ini untuk menonton serial ini. Saking bagusnya, video analisis ini bakal jadi heavy spoiler! So, please watch the series first. Kalau belum, baca aja paragraf di bawahnya.


Analisis paling keren soal Steven Universe. SPOILER ALERT PAKE BANGET!
(Sumber: Pop Culture Detective, YouTube)

Untuk merangkum video analisis tersebut (terutama bagi yang belum nonton), gue cuma ingin mengatakan bahwa Steven Universe sangat-sangat membantu gue untuk menerima emosi-emosi yang dianggap cemen oleh dunia patriarki. Laki-laki banyak dituntut untuk menekan perasaannya yang sesungguhnya, dan itu bahkan sangat terlihat ketika orang bilang di Twitter dengan premis ‘”Ayah gue itu memang tidak banyak ngomong/nangis/senyum/dll., tetapi gue tahu dia sebenarnya…” Jujur aja, basi.

Paragraf tadi sangat out of topic. Maaf, ya.

Kembali ke laptop.

WHY ANGRY?

Oke, setelah tahu background ilmiah dan budaya populer yang membuat gue tertarik untuk menjelajah dunia emosi negatif, pertanyaan selanjutnya adalah mengapa mengambil proyek dengan tema emosi marah?

Ini personal.

Bagi gue, ekspresi marah adalah ekspresi yang paling dihindari dan ditakuti oleh kehidupan sosial.

Kita masih bisa berempati dengan orang yang bersedih dan menangis. Tetapi, tidak dengan marah. Sulit bagi banyak orang untuk berempati dengan orang yang sedang marah.

Marah erat kaitannya dengan konflik, yang muncul sebagai puncak dari perbedaan ego yang bertemu satu sama lain. Marah sebisa mungkin dikontrol dan menjadi pilihan terakhir.

Namun, pada akhirnya, amarah yang terlalu dipendam menyebabkan kondisi seseorang menjadi tidak sehat pula. Muncul dendam, rasa panas, dan jika mengacu pada tradisi Melayu, emosi marah yang dipendam menjadi ‘amuk’, yang tidak hanya menyakiti orang lain tetapi juga diri sendiri.

THE PROJECT (#NYARINGKANKEMBALIBUNYITONGKOSONG – REPRISE)

Dari situ, awalnya gue kepikiran buat bikin semacam rage room kayak di internet, tempat buat seseorang buat marah sebebas mungkin dengan entah teriak atau ngancurin barang-barang yang ada di ruangan tersebut atau dua-duanya.

Gue dengan berapi-api menjelaskan ide itu ke dosen gue, tetapi kata Mbak Dosen, gue harus bikin inovasi, mengingat gue berada di kelas Pemikiran Kreatif. Yha. Ga bisa dong. Udah ada di internet. Ga kreatif.

Tapi kalo dipikir-pikir ga bakal terlaksana juga, sih. Rage room soalnya butuh properti yang banyak banget dan ga murah. Belum ngebersihin ruangan yang dipenuhin sama serpihan beling. Haduh.

Kata ‘inovasi‘ dari dosen gue terus terngiang-ngiang sampai hari Minggu, 23 Februari 2020 dini hari. Gue mencoba untuk berkonsultasi ke temen gue, anak Fakultas Psikologi, walaupun waktu itu lagi ngomongin Thomas Szasz, psikolog yang bilang bahwa konsep mental illness itu sebenernya ga ada.

Antiklimaks memang.

Ide tersebut muncul, dengan konyolnya, dengan impulsifnya, di perbicangan jam 2 pagi. Entah kenapa dia juga masih bangun jam segitu.

Ide meneriaki tong tersebut akhirnya gue teruskan.

Tong-tong buat proyek ini sebisa mungkin bahan bekas kayak drum minyak atau tong air (tapi ga karatan), kalau bisa dicat dan dilukis ulang buat branding. Buat demonstrasinya, gue bakal taruh di sejumlah tempat tongkrongan, khususnya di sekitar Gedung Komunikasi.

Image result for tong air dicat
Tong sampah juga sabi., tapi kayaknya butuh yang lebih gede.
(Sumber: Google)

Gue kemudian mencoba untuk bikin kampanye juga buat mengiklankan proyek gini. Kepikiranlah peribahasa ‘Tong kosong nyaring bunyinya.’ Hmm, siapakah yang kira-kira membunyikan tong tersebut? Ya! Mari kita bunyikan tong kosong dengan pelampiasan!

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!

Seperti itu.

Kampanye ini bakal gue publish di Instagram karena exposure buat entrepreneur-nya gede (banget!). Gue bakal memamerkan sejumlah tong dan lokasinya. Gue bakal jelasin tong ini buat apa dan mungkin kalo gue gila, bakal gue jual ke orang buat dikoleksi! Anak-anak hypebeast norak yang demen Supreme dijamin bakal beli tong-tong yang dilukis custom buat diteriakin doang. Paling Rp 100-500 ribu per tong. Kalau limited edition paling Rp 1-5 juta, lah. Masih belum ada rencana, sih, HEHE.

Hmm, kalau dipikir-pikir gue bisa jadi kaya dari sini. Diterusin pasca matkul ini selesai ga, ya…

Mungkin sudah sampai situ dulu.

Sekian.

REFERENSI

Oxford Dictionary. 2020. Bliss. Diakses pada 2 Maret 2020 pukul 03.40 WIB di https://www.lexico.com/en/definition/bliss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s